Di dunia ini hanya Al-Qur’an kitab yang masih terjaga keautentikannya. Kitab lain sudah banyak diubah oleh para pengikutnya sendiri. Sehingga teks asli hilang, dan tinggal pendapat oknum tersebut yang dipakai landasan para penganutnya. Berbeda dengan Al-Qura’n, penulisan Al-Qur’an tanpa menyertakan lafadz asli hukumnya haram. Fatwa tersebut adalah salah satu penunjang terbesar dalam menjaga keautentikan Al-Qur’an. Meskipun hakikatnya Allah yang menjaganya hingga hari kiamat.

Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Bukan hanya bagi yang Muslim, namun untuk seluruh manusia. Banyak orang yang awalnya non-Muslim setelah mendengar, membaca, mempelajari Al-Qur’an akhirnya menjadi mualaf. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memang diturunkan sejalan dengan akal yang ada di otak manusia. Kita ambil contoh ayat dari Surat At-Takatsur:

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ۝١
حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ ۝٢
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ ۝٣

Ayat tersebut menjelaskan bahwa bermegah-megahan dalam hal duniawi mempunyai dampak yang sangat buruk. Namun kita tidak pernah menyadarinya. Pada ayat ketiga, Tafsir Al-Jalalain menafsiri bahwa dampak bermegah-megahan tidak akan kita ketahui sampai kita mati. Namun, disisi lain kita juga sering melihat fenomena-fenomena yang terjadi karena ingin hidup dengan kemegahan. Kemegahan disini ialah hidup yang melebihi kadar seimbang. Di antaranya ialah banjir di Sumatera yang disebabkan penggundulam hutan, tanah longsor yang dikarenakan penambangan secara besar besaran, korupsi yang dilatarbelakangi ketamakan.

Kemudian dalam ruang lingkup yang lebih sederhana, kita sering menjumpai beberapa orang yang masih melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang bermanfaat. Atau bahkan merugikan, baik untuk dirinya sendiri atau merugikan orang-orang di sekelilingnya. Di zaman yang dimana pertumbuhan teknologi sangat cepat dan masif, kita sering terhanyut dalam arus yang mencelakakan kita. Kita sering berlama-lama scrolling sosmed atau bermain game hingga lupa waktu. Setelah tahu kita melakukan hal yang sia-sia, kemudian kita menyesal. Namun, keesokan harinya kita mengulangi hal yang sama.

Dari beberapa kejadian di atas bisa disimpulkan bahwa hadirnya Al-Qur’an belum benar-benar melekat pada kehidupan kita. Sehingga, kelompok penulis yang faqir dari keilmuan ini mencoba untuk belajar berkontribusi kepada khalayak umum atas keresahan-keresahan di atas melalui tulisan ini.

Kami sebagai penulis, sebenarnya masih merasa belum pantas untuk memberikan argumen terhadap keresahan-keresahan di atas. Namun, dengan belum pantas nya kami sebagai tim penulis, kami berharap agar pembaca memaklumi dan sudi untuk memberikan saran dan kritik yang membangun.

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Setiap kali membuka HP, kita menemukan pesan dan informasi, bagaimana jika Al-Quran menjadi ‘aplikasi’ utama kita? Membuka Al-Quran seperti membuka HP, menemukan petunjuk dan inspirasi di setiap halaman. Dalam beberapa ayat Allah berfirman:

“Dan barang siapa berpaling dari Al-Quran, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat.” (QS. Taha: 124)

Ayat ini menekankan pentingnya membaca Al-Quran secara rutin dan tidak berpaling darinya.

“Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Al-Ra’d: 28)

Ayat ini menjelaskan bahwa Membuka Al-Quran setiap hari bisa membawa ketenangan hati dan petunjuk hidup. Seperti HP yang selalu siap membantu, Al-Quran juga siap memberikan solusi dan inspirasi.

“Dan telah datang kepadamu cahaya dari Allah.” (QS. Al-Baqarah:97)

Ayat ini mengingatkan kepada kita bahwa Alqur’an adalah cahaya yang akan selalu menerangi jalan kita.

Beberapa hadits juga menyebutkan banyaknya keutamaan dari segi ukhrawi ataupun duniawi. Di antaranya ialah:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

“Sebaik-baiknya ibadah ummatku ialah membaca Al-Qur’an.” (HR. Al-Baihaqi)

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ: الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْف

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

عَنْ اَبيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: مَااجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللّٰهِ تَعَلىٰ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللّٰهِ ويَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ اِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَ غَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَاءِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ(رواه مسلم و ابو داود)

“Dari Sayyidina Abu Hurairah r.a Baginda Rasulullah saw bersabda, ‘tidak berkumpul satu kaum dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah, saling belajar mengajar sesama mereka, kecuali diturunkan kepada mereka sakinah, rahmat menaungi mereka, para malaikat rahmat mengerumuni mereka, dan Allah Swt akan menyebut-nyebut nama mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya.”

Setelah membaca beberapa penggalan ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang keutamaan membaca Al-Qur’an di atas, sudahkah terbuka hati dan fikiran kalian untuk membuka kembali lembaran-lembaran Al-Qur’an kalian? Jika belum, coba simak cerita singkat berikut:

Di kisahkan ada seorang dosen yang mempunyai istri yang sangat disiplin waktu dan sholihah. Baginya, Tiada hari tanpa membaca Al-Qur’an. Di waktu-waktu senggang beliau tidak pernah lepas dari mushaf Al-Qur’an. Mereka bukan dari kalangan orang miskin, melainkan tergolong orang yang menengah ke atas. Ia memiliki TV, smartphone, dan beberapa mobil. Mereka memiliki dua keturunan laki-laki yang juga tergolong orang sukses. Namun, mereka memang memiliki gaya hidup yang sederhana. Hari-harinya dilewati dengan beribadah, bekerja, dan membaca Al-Qura’n. Singkat cerita saat istri tersebut membaca Al-Qur’an, tiba-tiba ada teman sekolahnya menelpon. Si istri tersebut sudah tahu kalau beliau sering ditelpon teman-teman sekolahnya dulu. Namun, beliau tidak pernah menjawabnya. Namun kali ini karena suaminya yang menyuruhnya untuk menjawab, beliau pun mau mengangkat teleponnya. Setelah sekitar 10 menit, telpon pun selesai. Kemudian beliau menangis dan menyesal. Sang suami pun bertanya. “Ada apa?”. “10 menit jika dipakai untuk membaca Al-Qur’an mungkin sudah dapat 7 lembar mas”. Jawab sang istri.

Dari kisah tersebut, mungkin ada beberapa asumsi yang muncul. Diantaranya: “Subhanallah… orang yang hidupnya sudah berkecukupan saja masih sangat membutuhkan Al-Qur’an. Apalagi yang biasa saja.” Kedua “Membaca Al-Qur’an adalah hal yang baik, silaturahmi juga baik. Biarkan Allah yang menilainya. ” Ketiga “Memang rata-rata orang yang sukses itu jarang sekali menyibukkan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat. Dan membaca Al-Qur’an adalah hal yang sangat bermanfaat.”

Setelah membaca dan merenungkan mengenai keutamaan membaca Al-Qur’an, mungkin bukan jadi inti permasalahan Anda untuk mulai menghadirkan Al-Qur’an ke dalam kehidupan Anda. Namun, permasalahannya ialah kita bingung bagaimana caranya? Kita bingung harus mulai dari mana?

Nah, untuk hal ini kami selaku tim penulis ingin memberikan tips sederhana yang mungkin bisa membantu para pembaca:

A. Memulai dengan Hal Kecil
membaca Al-Qur’an sebaiknya dilakukan dengan istiqomah. Agar bisa melekat ke dalam pikiran dan hati. Dengan kita membaca secara sedikit demi sedikit namun setiap hari. Hal ini tidak akan terasa berat untuk dilakukan.

B. Sesuaikan Kemampuan
Kemampuan seseorang untuk membaca Al-Qur’an pasti berbeda-beda. Maka dari itu perlu sekiranya kita membaca Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan kita. Apabila belum bisa membaca sama sekali. Kalian bisa belajar sebisanya dan tetap istiqomah.

C. Membaca Arti dan Tafsir
Menghadirkan Al-Qur’an dalam setiap kehidupan kita, tidak lepas dari memahami kandungan yang ada di dalamnya. Dengan membaca arti dari Al-Qur’an kita bisa mengerti maksud dari Al-Qur’an secara umum. Dan dengan membaca tafsirnya, jadi ada batasan dalam cara kita memahami, sehingga tidak menjadikan salah makna.

D. Mengaitkan Al-Qur’an di Setiap Kegiatan
mengaitkan Al-Qur’an di setiap kegiatan maksudnya ialah seperti saat kita makan, kita coba ingat-ingat ayat tentang kenikmatan. Ketika kita sedang sedih, kita ingat-ingat ayat tentang belas kasih Allah. Ketika kita sedang menghadapi masalah, kita ingat-ingat tentang kekuasaan Allah.

Setiap umat pasti memiliki kebanggaannya masing-masing. Dan kebanggaan umat Islam adalah Al-Qur’an. Alangkah bahagianya para shahabat nabi dan umat-umat terdahulu karena bisa bertemu langsung dengan nabinya. Namun, meskipun kita tidak pernah/belum pernah bertemu langsung dengan nabi kita, kita tidak perlu berkecil hati. Kita jaga apa yang beliau wariskan; Al-Qur’an dan Hadits. Kita adalah umat yang paling mandiri. Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah Swt.

Ditulis oleh : Yasak, Ubaidillah, Zahrah, Bella, dan Miftah, mahasiswa/i IAT Al Khoziny Semester ll

Leave a Reply